Selasa, 26 April 2011

Bimbingan Konseling (BK) ??


Maksud
Bimbingan itu mengembangkan kemampuan individu untuk memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain dan dapat dilakukan oleh semua orang. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan untuk memecahkan masalah masalah pribadi dan dilakukan oleh seorang konselor.
Jadi, bimbingan konseling diartikan sebagai pelayanan khusus yang terorganisasi sebagai bagian integral dari suatu lingkungan sekolah, yang tugasnya adalah meningkatkan perkembangan siswa-siswa dan membantu mereka ke arah penyesuaian yang adekuat dan pencapaian prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan potensi mereka masing-masing. 

 Bagaimana dengan tujuan bimbingan konseling di Perguruan Tinggi??

Tujuan Bimbingan Konseling  di PT bagi mahasiswa menurut G.W Young (1970) adalah :
1.       Membantu mahasiswa mengambil keputusan mengenai pilihan karir, pilihan program pendidikan , dan masalah lain yang menyangkut keputusan pendidikan;
2.       memungkinkan mahasiswa lebih efektif dalam berinteraksi dengan orang lain;
3.       membantu mahasiswa mendapat pemahaman diri dan penerimaan diri;
4.       membantu mahasiswa untuk meningkatkan ketrampilan dari segi akademik maupun sosial , dan
5.       memberi dukungan mahasiswa mengatasi krisis emosional.
SuSumber :
Sukadji, Soetarlinah. 2000. Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah. Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (L.P.S.P3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia : Depok
 





 S



Selasa, 19 April 2011

Pendidikan Anak Usia Dini & Psikologi Sekolah


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yanag dilakukan melalui: pembinaan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani & rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Sesuai dengan (UU-RI Nomor:20 tahun 2003-pasal 1.14)

  Tujuan Pendidikan
Membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.
Menurut teori Kohlberg tentang perkembangan kognitif dalam perkembangan moral. 3 level dan tahap perkembangan moral menurut Kohlberg, yaitu :

Preconventional reasoning, merupakan level terbawah dari perkembangan moral dalam teori Kohlberg. Pada tahap ini anak tidak menunjukkan internalisasi nilai-nilai moral. Penalaran moral dokontrol oleh hukuman dan ganjaran eksternal.
Conventional reasoning, merupakan tahap kedua dalam teori Kohlberg. Pada level ini internalisasi masih setengan-setengah. Anak patuh secara internal pada standar\ tertentu, dimana standar itu dibuat oleh orang tua atau guru.
Postconventional reasoning, merupakan level tertinggi dalam teori Kohlberg. Pada level ini moralitas telah sepenuhnya diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar eksternal.

Psikologi Sekolah & Bimbingan Belajar

Apa yang dimaksud dengan psikologi pendidikan dan psikologi sekolah ? 

Psikologi Pendidikan adalah cabang psikologi yang mengkhususkan diri pada pemahaman tentang proses belajar dan mengajar dalam lingkungan pendidikan. Sedangkan psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.

Apakah perbedaan psikologi pendidikan dengan psikologi sekolah ?

Psikologi pendidikan mencakup pembelajaran dan pemahaman tentang pendidikan secara garis besar, sedangkan psikologi sekolah itu lebih fokus pada lingkungan sekolahnya, lebih ke siswanya atau bagaimana metode yang digunakan guru pada saat memberi pengajaran disekolah.

Perbedaan peran dan tugas psikologi pendidikan dan psikologi sekolah  ?

Psikolog pendidikan harus tahu dan memahami kondisi siswanya, memahami perbedaan indiidual, implikasi perbedaan fisik dan psikologik antara laki-laki dengan perempuan, dan perbedaan peran dan harapan antar keduanya.  Psikolog sekolah bisa memberikan penilaian intelegensia guru, inovasi guru dalam mengajar. Peran psikolog itu harus mampu meningkatkan kualitas sekolah, istilahnya supaya sekolah itu bermutu dengan baik. Caranya kita bisa melakukan evaluasi sekolah, komponen-komponen di sekolah yang menjadi penghambat dan meningkatkan kualitas sekolah.Tugasnya memberikan bimbingan kepada siswa di sekolah (Seperti, guru BK/BP), melakukan wawancara dengan siswa, guru, orang-orang yang terlibat dalam pendidikan siswa, mengobservasi siswa di kelas, tempat bermain, serta dalam kegiatan sekolah lainnya serta dapat melakukan pelaksanaan tes.

Sumber :
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta Putra Grafika: PT Fajar Interpratama Offset.
http://ibanezs.multiply.com/journal/item/6/ilmu_psikologi
Sukadji, S. (2000).Psikologi pendidikan dan Psikologi sekolah.Depok:Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Selasa, 12 April 2011

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus ...


Ketidakmampuan Belajar
Learning diasbility merupakan ketidakmampuan belajar, berdasarkan definisinya, anak yang menderita gangguan belajar :
1.       Punya kecerdasan normal atau diatas normal
2.       Kesulitan dalam setidaknya satu mata pelajaran atau biasanya beberapa mata pelajaran.
3.       Tidak memiliki problem atau gangguan lain, seperti retardasi mental
Inklusi merupakan sebuah cara untuk mendidik anak dengan pendidikan spesial di kelas reguler.
Mendidik Anak Berbakat
Empat opsi program untuk anak berbakat adalah :
·         Kelas khusus.
·         Akselerasi dan pengayaan di kelas reguler.
·         Program mentor dan pelatihan.
·         Kerja/studi dan/atau program pelayanan masyarakat.
p


Permasalahan :
Bagaimana tanggungjawab seorang pengajar yang mengemban tugas memberikan pendidikan kepada anak berkebutuhan khusus?
Solusi :
Seperti yang dijelaskan pada buku J.W Santrock pengajar  harus bisa memahami dan menerima anak yang menderita ketidakmampuan dan mempelajari tipe-tipe anak dengan ketidakmampuan dikelas. Pengajar juga harus bisa menciptakan suasana baru dan susun kelas secara efektif.

Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta Putra Grafika: PT Fajar Interpratama Offset.

Selasa, 05 April 2011

fenomena ;Mengapa Pelajaran Matematika Itu Dibilang Sulit

Riri Amaliah (10-003)
cut rafyqa (10-005)
rizqi chairiyah (10-007
 Bisa saja karena Matematika itu sudah terlanjur mendapat citra buruk dimata sebagian siswa.
 “Kenapa citra Matematika begitu buruk di mata sebagian siswa kita? “
1. Faktor Matematika itu sendiri.
      Matematika menuntut banyak analisa, perhitungan, dll (banyak siswa yang cenderung memilih menghafalkan dari pada berhitung). Lalu adakah cara untuk membuat Matematika (benar-benar sebagai ilmu) menjadi lebih menyenangkan? Tunggu tulisan/posting saya selanjutnya tentang ini.
2. Faktor guru
        Guru memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan (sebenarnya lebih tepatnya pengajaran). Penguasaan materi yang dicapai siswa tentu saja sangat tergantung pada guru. Ada hal yang saya soroti dari faktor ini, yaitu tentang perilaku guru.
3. Faktor siswa itu sendiri
      Hal yang saya soroti di sini adalah sugesti dan motivasi.
      Banyak siswa yang sudah terbujuk legenda turun temurun kalau Matematika itu sulit dan gurunya menyebalkan. Legenda itu  benar-benar telah men-sugesti siswa sehingga mereka cenderung kalah sebelum bertanding. Siswa cenderung terlanjur berpikir Matematika sulit sebelum mereka benar-benar mencoba Matematika.
      Yang kedua adalah motivasi. Sepertinya motivasi siswa untuk menaklukkan Matematika masih rendah, siswa baru tergopoh-gopoh mengejar Matematika setelah pemerintah menetapkan standar minimal kelulusan. Jadi tetap banyak manfaatnya juga pemerintah menetapkan standar kelulusan, setidaknya itu bisa menjadi pemicu siswa lebih rajin belajar Matematika.

Pembahasan :
Menurut pandangan psikologi pendidikan :Teori yang digunakan adalah teori prinsip konstruktivisme(Strategi Pengajaran) yang dikemukakan oleh Willian James dan John Dewey yang menyatakan bahwa guru bukan sekedar memberi informasi kepikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan dan berfikir secara kritis .Jadi guru sebagai fasilitator dapat membimbing anak agar bisa memahami pelajaran matematika, agar anak tersebut tidak menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit . Banyak alternatif yang bisa membuat seorang anak lebih mudah memahami pelajaran tersebut,salah satunya belajar sambil bermain dengan otak kanan .

Menurut pandangan psikologi keluarga
Keluarga dapat memberikan motivasi dan mengubah pola fikiran anak tersebut agar dapat memahami kalau pelajaran matematika itu tidak sesulit yang mereka bayangkan.
Menurut pandangan psikologi Lingkungan
Seorang anak dapat lebih bisa mengerti akan pelajaran tersebut apabila teman sebayanya yang ia lihat sebagai panutan mengerti akan pelajaran yang ia anggap sulit tersebut, akhirnya ada motivasi instrisik yang memacu ia untuk bisa memahami pelajaran matematika yang ia cab sulit.

referensi :
http://deking.wordpress.com/2007/03/07/kenapa-matematika-sulit-tentang-matematika-part-2/
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta Putra Grafika: PT Fajar Interpratama Offset.


Selasa, 15 Maret 2011

Inteligensi ......


Inteligensi menurut J.W Santrock adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.


Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.
Sumber :
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta Putra Grafika: PT Fajar Interpratama Offset.

Selasa, 08 Maret 2011

BERCERITA TENTANG KOTA MEDAN


Traffic Light di Medan Makin Semraut
Sebenernya traffict light berfungsi untuk mengatur jalannya lalulintas. Kalau sekarang pengguna jalan yang mengatur jalannya traffict light. Terutama pengguna kendaraan bermotor dan para pengguna angkutan umum .
MEDAN|OB – Traffic light (lampu lalulintas) di sejumlah persimpangan Kota Medan seringkali mengalami kerusakan alias padam akibatnya padam sejumlah lampu traffic light tersebut lalu lintas menjadi semraut dan macet.
Pantauan wartawan di lapangan di sejumlah persimpangan Kota Medan, seperti Simpang Kesawan, Simpang Asrama zipur, di depan SPBU Pulo Brayan atau Jalan Yos Sudarso dan Simpang Teuku Amir Hamzah di mana lalu lintas terlihat merayap dan semraut.

Pengguna Jalan Lewati Garis Pembatas


SEJUMLAH pengguna jalan menunggu giliran lampu hijau untuk jalan di persimpangan jalan. Masih banyak pengguna jalan di Medan melanggar peraturan lalu lintas untuk berhenti di garis putih pembatas jalan. Diharapkan kesadaran pengguna jalan untuk mematuhi peraturan lalu lintas seperti ini demi keselamatan bersama para pengguna jalan.
Wah ..wah ...
Lebih cepat lebih baik, jadi lewat pembatas jalan itu jalan terbaik .Mungkin itu pendapat sebahagian pengguana jalan.

Berani naik angkot di Medan?

by mr. sectiocadaveris


Pernah tahu bagaimana rasanya naik kendaraan ugal-ugalan melawan arah lalu lintas di jalan raya? Ngebut di gang kecil  namun kecepatannya seperti di jalan tol? Hingga balapan dengan kendaraan sejenis dengan selisih jarak kurang dari semeter? Kalau belum, menurutku kalian harus mencoba naik kendaraan yang satu ini.

Namun sayangnya tingginya manfaat tersebut tidak diimbangi dengan perilaku berlalu lintas yang terpuji; mobil-mobil ‘malang’ ini justru dikendalikan oleh para sopir yang rada-rada ekstrem dalam mengemudi. Yang kumaksud dengan ekstrem di sini bukan cuma sekedar kecepatan tinggi, melainkan hampir membahayakan nyawa seisi umat pengguna jalan raya di sekitarnya.
Mungkin karena jumlah angkot ini sudah kebanyakan (dibanding jumlah penumpang hariannya), nggak heran setiap sopir akan selalu saling berlomba mencari sewa (*penumpang). Tidak peduli jalan besar atau jalan kecil, apabila ada dua angkot yang bersebelahan/beriringan, maka siap-siaplah menyaksikan cuplikan adegan The Fast and The Furious di jalan raya. Mereka akan saling kebut-kebutan, saling mendahului dalam mencari penumpang. Nggak tanggung-tanggung, kecepatannya bisa sampai 6o-70 km/jam di jalan yang lebarnya cuma dua jalur (bolak-balik), bahkan masuk ke jalur yang berlawanan untuk mendahului saingannya (alias: berjalan ngebut di sebelah kanan). Jarak antar mobil bisa kurang dari semeter! Apabila dalam aksinya tersebut sang sopir melihat ada penumpang yang hendak naik (atau ada yang mau turun), maka mereka akan berhenti mendadak tanpa melihat kaca spion terlebih dahulu. Yang penting dapat duit! Kebiasaan yang berbahaya ini selalu berulang, nggak heran setiap hari ada saja kejadian tabrakan dan kecelakaan, baik antara sesama angkot, maupun angkot dengan kendaraan lain. Anda penumpang yang berada di dalam kendaraan, bersiap-siaplah mengikuti uji nyali. Dan buat yang sedang berkendara di sekitar angkot, lebih baik menjauh demi keselamatan nyawa(mu). Orang waras kan selalu mengalah, bung!
Selain ugal-ugalan, kendaraan ini juga sering menyerobot jalan orang lain. Bahkan pernah hingga naik ke trotar yang semestinya tempat pejalan kaki. Alkisah angkot tersebut ingin belok kiri di persimpangan lampu merah (*peraturannya belok kiri boleh jalan terus), namun karena terhalang oleh kendaraan lain dan menyisakan celah hanya sekitar 0,5 meter untuk lewat, maka separuh kiri angkot tersebut memanjat  trotoar setinggi agar bisa lewat. Mirip-mirip aksi off-road dengan mobil 4×4. Berbahaya memang, apalagi buat pejalan kaki yang kebetulan lewat.
Di persimpangan, kendaraan ini juga terkenal kurang disiplin. Kebetulan kebanyakan persimpangan lampu merah di Medan menggunakan timer yang memungkinkan para pengendara menghitung lamanya lampu merah dan hijau. Apabila angkot ini sedang melaju kencang menuju perempatan, di mana timer menujukkan lampu hijau tinggal tersisa 1 detik lagi, maka mereka akan memaksakan kendaraannya untuk menerobos perempatan tidak peduli akan ada kendaraan yang datang dari arah berlawanan. Atau sebaliknya, setelah antri sekian lama di lampu merah, begitu berganti lampu hijau mereka akan membunyikan klakson sekeras-kerasnya untuk menyuruh kendaraan lain minggir (padahal lagi sama-sama antri lho).
Dari segi keamanan berkendara dan menumpang, bagian dalam angkot juga rada-rada berbahaya. Tidak ada sabuk pengaman untuk yang duduk di depan. Tidak ada pegangan untuk yang duduk di dekat pintu masuk. Malahan, beberapa angkot meletakkan tangki bensinnya di depan (di samping sopir). Hal ini banyak terdapat pada angkot tua (jenis hijet), di mana bensin disimpan dalam jerigen di kabin depan lalu dialirkan menggunakan selang tipis ke mesin. Seakan dianggap kurang berbahaya, si sopir merokok pula sambil menyetir. Hanya tinggal tunggu nasib, percikan abu rokoknya akan masuk menyelusup ke dalam jerigen bensin. Dan angkot tersebut akan berubah menjadi bom raksasa. :-(
Perilaku verbal para sopir juga banyak yang tidak terpuji. Tidak semua sopir, memang, namun kebanyakan mereka sering mengeluarkan makian/perkataan yang tidak pantas didengar jika dalam kondisi tertekan (misalnya: lampu merah yang tak kunjung berganti, atau kemacetan, atau uang setoran yang belum terkumpul). Anda yang baru pertama kali pasti terkejut mendengarnya. Siap-siap saja menerima mendengar makian cabul atau bernada merendahkan lainnya dari mulut mereka.

Aku jadi teringat akan sebuah humor tentang sopir angkot yang ugal-ugalan. Dikisahkan sopir angkot tersebut menghadap malaikat pada hari kematiannya. Ketika ditanya oleh malaikat, apakah mau masuk surga atau neraka, dengan entengnya sopir tersebut menjawab ingin masuk surga. Alasannya, selama ia mengemudi, para penumpangnya jadi banyak yang taat dan berdoa kepada Tuhan (minta diberi keselamatan selama perjalanan). :mrgreen:



Taman di Medan Jadi Lokasi Pacaran Pelajar

Sekali waktu berjalan-jalanlah ke taman-taman kota yang tersebar di Kota Medan. Pada saat jam tertentu, jangan terkejut jika melihat dua orang pelajar berlainan jenis tanpa sungkan memperlihatkan kemesraan. Pemandangan yang belakangan seperti begitu akrab di mata publik ini, haruskah terus dibiarkan?
“Banyaknya taman-taman di Kota Medan yang dijadikan tempat “pacaran” oleh sejumlah pelajar harus menjadi perhatian yang serius oleh segenap pihak, baik itu pemerintah kota, hingga orangtua.


Proses Kognitif, Motivasi dan Tujuan Instruksional


Proses pengenalan diri dapat dilihat dengan kognitif  seseorang dan bagaimana respon yang akan seseorang itu keluarkan ketika kita melakukan pengenalan diri. Respon yang diberikan seseorang itu berupa motivasi orang itu terhadap penilaian yang diberikan orang lain. Salah satu teori yang membahas tentang proses pengenalan diri berupa koginsi ialah :
Teori Kognitif Sosial Bandura
Teori kognitif sosial menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama: perilaku, person/kognitif, dan lingkungan. Dalam model determinisme resiprokal faktor kognitif/person, faktor lingkungan, dan faktor perilaku saling mempengaruhi satu sama lain. Artinya faktor-faktor ini bisa saling berintraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan.
MOTIVASI
Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artimya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan berrtahan lama.
Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman .Sedangkan Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri.

Apa yang membuat seseorang menentang pendapat tentang dirinya ketika kita membuat sebuah pembelajaran seperti cara penilaian diri Johari Windows ?
 Asumsi sementara saya : Menurut saya, yang membuat seseorang menentang pendapat tentang dirinya ketika temannya menyebutkan salah satu karakter negatifnya lah contohnya, mungkin karena ada motivasi dalam dirinya yang mendorong ia melakukan penentangan itu. Seakan ia tidak merasa kalau ternyata dirinya seperti itu.
Sumber : Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group